Penasaran menuntun saya membuka kembali file-file lama yang tertumpuk bercampur kertas-kertas sobekan yang saya anggap penting dalam tas tempat tugas gambar teknik saya semasa smk, yap betul sekali masih tersimpan form pendaftaran yang saya cari.
saya lihat dari atas sampai bawah, ternyata mudah sekali menemukan apa yang saya cari, saya mencari SPI, kalo dicari di internet SPI itu kepanjangannya adalah Sumbangan Pengembangan Institusi.
Saya mencari SPI anak-anak kedokteran yang tepat sekali ternyata hitung-hitungannya akan mudah, karena diform "tahun 2017", SPI untuk anak Pendidikan Dokter S1 itu sebesar 120jt (itu SPI tahun 2017 lho ya, bukan 2018 atau 2019 yang pastinya lebih tinggi lagi nominalnya).
Pikir saya mantap ini sangat mudah jika di bandingkan dengan biaya kuota sebesar 1,2 milyar yang dikatakan memberatkan kampus pada tahap I, mudah di hitungnya karena 1,2 milyar di bagi 120jt hasilnya 10. Anak sd kelas tiga pun tahu hasilnya 10, paling mereka bingung karena banyaknya nol.
1,2 milyar setara SPI 10 anak kedokteran ditahun 2017, hmmm
padahal satu angkatan anak kedokteran kalo mau kita hitung seluruhnya juga pastinya berlipat lipat jumlahnya dari itu.
yang perlu digaris bawahi, diitalic dan di bold kalo perlu. Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam(MIPA), Fakultas Ekonomi, Fakultas Bahasa dan Budaya Asing(FBBA), Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan(FIKKES), itu besaran SPI nya belum sama sekali masuk dihitungan tadi, bayar semesteranya pun belum dimasukan. Kalo di hitung semua saya perkirakan belasan bahkan puluhan milyar mungkin, saya gak punya datanya susah ngitungnya jadi kira kira saja.
pada intinya saya sangat prihatin, kalau jawaban dari birokrat 1,2 milyar itu suatu keberatan, dan bahkan sudah memutuskan kuota internet tahap ke-2 tidak diturunkan.
1,2 milyar dibagi 150rb itu hasilnya 8000. 8000 orang yang dapat kuota sebesar 150rb, eh bentar dulu, 8000 itu jumlah mahasiswa kan ya, berati selama tiga bulan kita hanya dapat 150rb saja? apa dulu saya salah mengira kalau kuota sebesar 150rb itu untuk tiap bulan? saya kehilangan file pemberitahuan itu jadi kalo kalian punya data itu bisa kasih tahu saya. atau mungkin jumlah mahasiswa kita satu kampus 2700an saja, nggak tau juga saya.
saya cuma mengingatkan uang 1,2 milyar itu tidak besar kalau bicaranya mengenai biaya seluruh mahasiswa selama satu semester, terlebih pada semester satu ada tambahan SPI dari mahasiswa baru.
Yang jadi pertanyaan, ko bisa kampus sampai kuwalahan memberi bantuan kuota sebesar 1,2 milyar itu? yang padahal 1,2 milyar itu untuk 8000 mahasiswa lo, yang kalo tadi dihitung diatas ya hanya dapat 150rb saja/semester.
Bayangkan saja lo, 150rb/semester saja sampe kuwalahan. kalau segitu saja kewalahan harusnya bisa sadar dong kita yang bayar jutaan bagaimana rasanya. ye kan
Hari selasa malam tanggal 30 juni saya datang kekampus karena ada keperluan sama teman, sampai di kampus sambil saya amati sekitar, terlihat gapura besar pintu masuk, gedung teknik yang sedang dibangun sudah tinggi, ada juga bangunan di samping tempat parkir yang entah apa, cafe atau apa saya tak tahu. Saya hanya bisa menduga-duga, apakah sebagian besar uang itu fokusnya masuk kepembangunan gedung-gedung ini, sehingga kampus pada semester dua ini defisit anggaran karena pembangunan tadi yang pastinya sudah terikat kontrak.
Namun ketika dipikir lebih dalam yang seperti itu masih bisa dipertanyakan lagi, apakah iya fokusnya untuk pembangunan saja, tidak ada opsi lain kah, atau opsi baru dimasa pandemi seperti ini, misalnya mengurangi fokus pembangunan untuk pemotongan UKT, fokus dulu kemasalah pandemi dan masalah mahasiswanya, tidak bisa ya seperti itu?
Sepertinya memang tidak bisa ya. Seperti perihal pembangunan tadi yang pastinya ada sistem kontraknya, saya kira hal itu bisa jadi alasan dan kartu AS buat kampus. Jika benar seperti itu tentunya kita yang protes bawa hitung-hitungan akan kalah jika ditampar dengan data-data karena alasan pembangunan tadi. Sungguh Ironi sekali. Serasa kalah sebelum berperang memang.
Terlebih lagi jika permasalahan perjuangan yang seperti ini sudah tidak ada lagi yang menuntun, kita manut-manut saja pada yang buat kebijakan, loss tanpa mengertak pada birokrat. Saya berkesimpulan. Sudahlah kalian mahasiswa "biasa" yang serba kekurangan, nggak usah kuliah-kuliahan segala, bikin repot sendiri sama orang tua, pikir kesusahan kesusahan kalian dimasa pandemi seperti ini, kerja saja sana cari duit buat nikah, introspeksi diri gak usah muluk-muluk pingin kuliah segala. Gak terlalu dipedulikan juga kesusahan kalian itu, mau berharap apa lagi kalian, mau berharap sama siapa? Aktifis kampus?
TTW 5 juli 20

Tidak ada komentar:
Posting Komentar