
Menerima kehadiran orang seperti Coki Pardede yang "agnostik" adalah salah satu fase menuju "Kedewasaan Bermanusia", bahkan bisa ditarik "Kedewasaan dalam Beragama" menurut saya, seperti kata Habib "saya tak peduli dia menerima pesan kebaikan yang saya sampaikan atau tidak, tugas saya hanya menyampaikan, urusan hidayah serahkan kepada Tuhan." Berbeda 2-3 tahun lalu ketika masa"awal saya mengaji, ketika bertemu orang yang tak sesuai dengan konteks yang saya pelajari langsung judge, jauhi, pandang rendah, itu bid'ah, tak sesuai sunah, dasar kafir. sombong sekali saya baru tau ilmu secuil saja seakan menjadi orang yang paling mengaji.
Saya mengenal MLI (majelis lucu indonesia) sudah dari 2018 lalu, saat mereka (muslim dan coki) sedang naik daun karena kritikan pedasnya ke Atta, mungkin temen-temen tau kata "tapi bo'ong" itu waktu mereka klarifikasi maaf ke Atta, namun diakhir videonya bilang "tapi bo'ong", nah tu awal tenarnya klarifikasi "tapi bo'ong".
Lanjut, awalnya saya beranggapan biasalah orang seperti mereka ingin tenar cari panggung (walau sebenarnya kritik yang mereka sampaikan ada benarnya juga), sudahlah abaikan, selang beberapa waktu, ada lagi ni ulah mereka yang membikin orang naik darah (terkhusus sebagian ormas Islam), karena video mereka "last hope kitchen" memasak daging babi dicampur saus kurma. Dalam video itu Tretan Muslim (Islam) memasakan Coki (agnostik) "babi saus kurma", Tretan Muslim sendiri sudah mengatakan bahwa dia hanya memasakan saja, sedangkan yang makan adalah temannya Coki. Namun setelah video itu tayang di youtube, banyak komentar negatif cenderung provokatif dilayangkan para netizen yang saya kira bukan subscribernya MLI, mereka menganggap Coki dan Muslim telah menista agama, hujatan dan cacian banyak ditujukan kepada mereka, bahkan ancaman pembunuhan pun di terima Tretan Muslim, bukan hanya melalui media sosial, ancaman bahkan sudah mulai di lakukan melalui dunia nyata, bahkan kantor MLI pun sampai didatangi oleh Ormas, yang memaksa mereka untuk meminta maaf karena tuduhan menista agama, tanpa menunjukan konten bagian mana yang salah dari video itu.
Kemudian mereka mengklarifikasi minta maaf, melalui vlog 'Debat Kusir - Episode Terakhir' yang diunggah Selasa (30/10/2018) di saluran YouTube Majelis Lucu mereka juga menyatakan mundur dalam program komedi tersebut.
Setelah kejadian itu tentu beritanya menyebar kemana-mana, videonya sendiri sudah di hapus namun dari netizen sudah ada yang mengunduhnya dan diupload lagi, penasaran menuntunku untuk menyaksikan video viral itu, saya amati bagian mana ya yang dimaksud orang menista di video itu, sambil lihat komentar ternyata banyak yang sependapat dengan pikirku, saya sendiri setelah menonton video itu merasa biasa saja (ya rada kaget karena jujur mereka berani saja membawa komedi keranah yang menyinggung agama) cuma saya tak menemukan yang sekiranya dirasakan mereka yang menganggap coki dan muslim menista.
Perkiraanku mungkin karena ada kata yang di ucapkan rada sensitif, misal saat Tretan mendekatkan daging babi ke telinga dan bilang "neraka, neraka, api neraka"
Kemudian saat coki bilang "daging babi disiram air kurma apakah cacing pitanya akan mualaf ?"
Tapi saya mengira itu pun masih biasa, hanya komedi, hanya bercandaan mereka (entah komedi saya yang terlalu jauh atau bagaimana, bagi saya itu tak menista), dan kalaupun menganggap mereka menista ya seharusnya mereka yang non muslim atau kafir gampanya, yang seharusnya memprotes, karena jelas misal saat Tretan Muslim mendekatkan daging babi ketelinga dan bilang "neraka, neraka, neraka" jelas itu menyindir mereka yang makan daging babi dong harusnya, tapi justru anehnya ko malah dari ormas yang sama dengan muslim yang sangat keras protesnya, aneh bukan?.
Dalam video pamitannya, Coki dan Tretan menekankan konten-konten mereka selama ini justru bertujuan untuk menjaga toleransi.
Lantas apa yang hendak saya opinikan?
Begini saya sendiri bisa dibilang penggemar chanel MLI, jujur saya menyukai arah comedi yang mereka bawakan (Toleransi dan kejujuran), dari coki yang membawa komedi tak bermoral (saya menganggapnya kejujuran, kritikannya berlogika, public speakingnya, dan kritisnya bagus menandakan dia banyak referensi) dan dari muslim yang membawa kritikan (agama dan perilaku) sebagian orang dari agamanya, keduanya berani menyuarakan komedi yang umumnya tabu dibicarakan namun menjadi keresahan mereka.
Kemudian balik ke masalah masak kurma babi tadi, yang menjadikan saya tertarik dengan mereka berdua adalah "Toleransinya". Ya toleransi mungkin banyak digaungkan oleh orang-orang yang notabene mungkin dianggap lebih baik dari mereka berdua, namun justru bagi saya, mereka (coki, muslim) yang menunjukan kepada saya apa itu toleransi. Coba lihat juga persahabatan mereka, menurut saya itu hal indah, meskipun kita beda sekalipun kita masih tetap bisa bersama-sama. seperti Muslim yang sering menyebut sahabatnya Coki kafir didepan mukanya langsung namun Coki tak marah, dan malah senang dianggap seperti itu, karena memang dia sendiri merasa kafir, seperti itulah seharusnya kita hidup bermasyarakat, anggap santai saja (terlepas dari frontalnya komedi mereka).
Tretan sendiri pernah bercerita bawa dirinya dulu adalah agamis yang keras, kalau tak sesuai ajaran ya salah, ya jauhi, ya bid'ah, bahkan dirinya sempat benci dengan orang non Muslim, namun setelah jalannya waktu dia berubah dan merasa dirinya yang dulu salah, terlebih ketika dia bertemu dengan temannya yang non muslim diacara standup comedy yang ia ikuti, ditambah bertemu dengan orang seperti Coki Al Kuffar Ketua Yayasan Pemuda Tersesat, dia merasa toleransi itu perlu dan mulai membuka diri berteman dengan orang yang tak seagama dengannya.
part IV
Masak babi kurma ini sebenarnya toleransi yang ingin mereka sampaikan, ya walaupun sebenarnya sudah ada sekat "yang Muslim ndak boleh makan babi, yang non terserah keyakinannya", walaupun begitu dalam kenyataannya kalau tak ada toleransi bisa jadi masalah, seperti kasus beberapa waktu lalu ada orang yang marah-marah dengan tetangganya sendiri karena memasak babi, orang ini marah karena masakan daging babi ini aromanya menggangu tetangga sekitar katanya. terlepas dari itu saya sendiri belum pernah mencium masakan babi, jadi tak bisa menilai apakah sebegitu menyengatnya aroma daging babi ini, cuman maksud yang ingin saya tekankan, apakah hanya karena hal seperti itu saja kita harus bertengkar dengan tetangga? (terlebih tetangga non muslim, yang seharusnya kita harus lebih menampakan wajah Islami kita), apakah tidak bisa dikompromikan terlebih dulu?, dan jika yang demikian itu kita anggap bisa menggagu keimanan kita, bukankah sebenarnya iman kita sendiri yang bermasalah?
Bukan maksud yang aneh-aneh, saya sendiri lagi, jadi suka saja melihat jalan pikir masing-masing orang. mengenai yang tak sependapat kita bisa diskusi, nggak suka ya nasehati, mentok sudah ngga mempan dinasehati ya abaikan saja.
Ngomongin ndak sukanya dengan MLI saya rasa ada konten mereka yang menurut saya paling parah dan ndak beradab, kalian bisa liat yang video mereka saat bulan puasa sengaja makan di jalanan saat banyak orang puasa, itu bangs*d banget si menurut saya, nah kalo mau marah sama mereka pake yang video itu saja saya setuju 😅, cuma untuk sekarang MLI sudah mulai pintar dia, cara mainnya cerdik, ditambah menggaet "Seorang Habib" sebagai tameng, diatas angin dia, ckuaaakzzzzz
Komedi layaknya sebuah aliran musik, ada yang senang campur sari ada yang suka death metal, tinggal sesuaikan saja kesukaan kita masing-masing, jangan paksakan orang yang suka campursari dengerin lagu death metal, ya pastinya kamu akan di ejek lagu apaan ini, gak jelas. kalau tak siap diejek begitu ya kamu bisa berantem gara-masalah sepele itu.
Intinya kalau memang anda suka komedi yang aman tak menyinggung orang ya sesuaikanlah apa yang kalian tonton, jangan terus nonton komedi dark joke, kalau tak sefrekuensi ya bisa berontak kalian, caci maki kalian mungkin bisa terlontarkan kemereka, bahkan mengancam membunuh pun jadi opsi, harapan kalian mereka nurut apa yang kalian inginkan, namun nyatanya mereka akan tetap demikian, mereka berdiri dalam keyakinnannya sendiri, mereka tak peduli denganmu, semakin kamu caci mereka, semakin mereka "mengganggumu" yang lebih parahnya mereka akan menganggapmu bodoh tak pandai memilah-milah....
Sadar
ttw/27-05-20
