Kamis, 28 Mei 2020

"SADAR"



Menerima kehadiran orang seperti Coki Pardede yang "agnostik" adalah salah satu fase menuju "Kedewasaan Bermanusia", bahkan bisa ditarik "Kedewasaan dalam Beragama" menurut saya, seperti kata Habib "saya tak peduli dia menerima pesan kebaikan yang saya sampaikan atau tidak, tugas saya hanya menyampaikan, urusan hidayah serahkan kepada Tuhan." Berbeda 2-3 tahun lalu ketika masa"awal saya mengaji, ketika bertemu orang yang tak sesuai dengan konteks yang saya pelajari langsung judge, jauhi, pandang rendah, itu bid'ah, tak sesuai sunah, dasar kafir. sombong sekali saya baru tau ilmu secuil saja seakan menjadi orang yang paling mengaji.

Saya mengenal MLI (majelis lucu indonesia) sudah dari 2018 lalu, saat mereka (muslim dan coki) sedang naik daun karena kritikan pedasnya ke Atta, mungkin temen-temen tau kata "tapi bo'ong" itu waktu mereka klarifikasi maaf ke Atta, namun diakhir videonya bilang "tapi bo'ong", nah tu awal tenarnya klarifikasi "tapi bo'ong"

Lanjut, awalnya saya beranggapan biasalah orang seperti mereka ingin tenar cari panggung (walau sebenarnya kritik yang mereka sampaikan ada benarnya juga), sudahlah abaikan, selang beberapa waktu, ada lagi ni ulah mereka yang membikin orang naik darah (terkhusus sebagian ormas Islam), karena video mereka "last hope kitchen" memasak daging babi dicampur saus kurma. Dalam video itu Tretan Muslim (Islam) memasakan Coki (agnostik) "babi saus kurma", Tretan Muslim sendiri sudah mengatakan bahwa dia hanya memasakan saja, sedangkan yang makan adalah temannya Coki. Namun setelah video itu tayang di youtube, banyak komentar negatif cenderung provokatif dilayangkan para netizen yang saya kira bukan subscribernya MLI, mereka menganggap Coki dan Muslim telah menista agama, hujatan dan cacian banyak ditujukan kepada mereka, bahkan ancaman pembunuhan pun di terima Tretan Muslim, bukan hanya melalui media sosial, ancaman bahkan sudah mulai di lakukan melalui dunia nyata, bahkan kantor MLI pun sampai didatangi oleh Ormas, yang memaksa mereka untuk meminta maaf karena tuduhan menista agama, tanpa menunjukan konten bagian mana yang salah dari video itu. 

Kemudian mereka mengklarifikasi minta maaf, melalui vlog 'Debat Kusir - Episode Terakhir' yang diunggah Selasa (30/10/2018) di saluran YouTube Majelis Lucu mereka juga menyatakan mundur dalam program komedi tersebut.

Setelah kejadian itu tentu beritanya menyebar kemana-mana, videonya sendiri sudah di hapus namun dari netizen sudah ada yang mengunduhnya dan diupload lagi, penasaran menuntunku untuk menyaksikan video viral itu, saya amati bagian mana ya yang dimaksud orang menista di video itu, sambil lihat komentar ternyata banyak yang sependapat dengan pikirku, saya sendiri setelah menonton video itu merasa biasa saja (ya rada kaget karena jujur mereka berani saja membawa komedi keranah yang menyinggung agama) cuma saya tak menemukan yang sekiranya dirasakan mereka yang menganggap coki dan muslim menista.

Perkiraanku mungkin karena ada kata yang di ucapkan rada sensitif, misal saat Tretan mendekatkan daging babi ke telinga dan bilang "neraka, neraka, api neraka"

Kemudian saat coki bilang "daging babi disiram air kurma apakah cacing pitanya akan mualaf ?"

Tapi saya mengira itu pun masih biasa, hanya komedi, hanya bercandaan mereka (entah komedi saya yang terlalu jauh atau bagaimana, bagi saya itu tak menista), dan kalaupun menganggap mereka menista ya seharusnya mereka yang non muslim atau kafir gampanya, yang seharusnya memprotes, karena jelas misal saat Tretan Muslim mendekatkan daging babi ketelinga dan bilang "neraka, neraka, neraka" jelas itu menyindir mereka yang makan daging babi dong harusnya, tapi justru anehnya ko malah dari ormas yang sama dengan muslim yang sangat keras protesnya, aneh bukan?. 

Dalam video pamitannya, Coki dan Tretan menekankan konten-konten mereka selama ini justru bertujuan untuk menjaga toleransi.

Lantas apa yang hendak saya opinikan?

Begini saya sendiri bisa dibilang penggemar chanel MLI, jujur saya menyukai arah comedi yang mereka bawakan (Toleransi dan kejujuran), dari coki yang membawa komedi tak bermoral (saya menganggapnya kejujuran, kritikannya berlogika, public speakingnya, dan kritisnya bagus menandakan dia banyak referensi) dan dari muslim yang membawa kritikan (agama dan perilaku) sebagian orang dari agamanya, keduanya berani menyuarakan komedi yang umumnya tabu dibicarakan namun menjadi keresahan mereka. 

Kemudian balik ke masalah masak kurma babi tadi, yang menjadikan saya tertarik dengan mereka berdua adalah "Toleransinya". Ya toleransi mungkin banyak digaungkan oleh orang-orang yang notabene mungkin dianggap lebih baik dari mereka berdua, namun justru bagi saya, mereka (coki, muslim) yang menunjukan kepada saya apa itu toleransi. Coba lihat juga persahabatan mereka, menurut saya itu hal indah, meskipun kita beda sekalipun kita masih tetap bisa bersama-sama. seperti Muslim yang sering menyebut sahabatnya Coki kafir didepan mukanya langsung namun Coki tak marah, dan malah senang dianggap seperti itu, karena memang dia sendiri merasa kafir, seperti itulah seharusnya kita hidup bermasyarakat, anggap santai saja (terlepas dari frontalnya komedi mereka). 

Tretan sendiri pernah bercerita bawa dirinya dulu adalah agamis yang keras, kalau tak sesuai ajaran ya salah, ya jauhi, ya bid'ah, bahkan dirinya sempat benci dengan orang non Muslim, namun setelah jalannya waktu dia berubah dan merasa dirinya yang dulu salah, terlebih ketika dia bertemu dengan temannya yang non muslim diacara standup comedy yang ia ikuti, ditambah bertemu dengan orang seperti Coki Al Kuffar Ketua Yayasan Pemuda Tersesat, dia merasa toleransi itu perlu dan mulai membuka diri berteman dengan orang yang tak seagama dengannya. 
part IV

Masak babi kurma ini sebenarnya toleransi yang ingin mereka sampaikan, ya walaupun sebenarnya sudah ada sekat "yang Muslim ndak boleh makan babi, yang non terserah keyakinannya", walaupun begitu dalam kenyataannya kalau tak ada toleransi bisa jadi masalah, seperti kasus beberapa waktu lalu ada orang yang marah-marah dengan tetangganya sendiri karena memasak babi, orang ini marah karena masakan daging babi ini aromanya menggangu tetangga sekitar katanya. terlepas dari itu saya sendiri belum pernah mencium masakan babi, jadi tak bisa menilai apakah sebegitu menyengatnya aroma daging babi ini, cuman maksud yang ingin saya tekankan, apakah hanya karena hal seperti itu saja kita harus bertengkar dengan tetangga? (terlebih tetangga non muslim, yang seharusnya kita harus lebih menampakan wajah Islami kita), apakah tidak bisa dikompromikan terlebih dulu?, dan jika yang demikian itu kita anggap bisa menggagu keimanan kita, bukankah sebenarnya iman kita sendiri yang bermasalah?

Bukan maksud yang aneh-aneh, saya sendiri lagi, jadi suka saja melihat jalan pikir masing-masing orang. mengenai yang tak sependapat kita bisa diskusi, nggak suka ya nasehati, mentok sudah ngga mempan dinasehati ya abaikan saja.

Ngomongin ndak sukanya dengan MLI saya rasa ada konten mereka yang menurut saya paling parah dan ndak beradab, kalian bisa liat yang video mereka saat bulan puasa sengaja makan di jalanan saat banyak orang puasa, itu bangs*d banget si menurut saya, nah kalo mau marah sama mereka pake yang video itu saja saya setuju 😅, cuma untuk sekarang MLI sudah mulai pintar dia, cara mainnya cerdik, ditambah menggaet "Seorang Habib" sebagai tameng, diatas angin dia, ckuaaakzzzzz

Komedi layaknya sebuah aliran musik, ada yang senang campur sari ada yang suka death metal, tinggal sesuaikan saja kesukaan kita masing-masing, jangan paksakan orang yang suka campursari dengerin lagu death metal, ya pastinya kamu akan di ejek lagu apaan ini, gak jelas. kalau tak siap diejek begitu ya kamu bisa berantem gara-masalah sepele itu.

Intinya kalau memang anda suka komedi yang aman tak menyinggung orang ya sesuaikanlah apa yang kalian tonton, jangan terus nonton komedi dark joke, kalau tak sefrekuensi ya bisa berontak kalian, caci maki kalian mungkin bisa terlontarkan kemereka, bahkan mengancam membunuh pun jadi opsi, harapan kalian mereka nurut apa yang kalian inginkan, namun nyatanya mereka akan tetap demikian, mereka berdiri dalam keyakinnannya sendiri, mereka tak peduli denganmu, semakin kamu caci mereka, semakin mereka "mengganggumu" yang lebih parahnya mereka akan menganggapmu bodoh tak pandai memilah-milah....


Sadar

ttw/27-05-20

Rabu, 27 Mei 2020

"PERNIKAHAN DINI"

Nikah bukan lomba lari,

Bahagianya bukan dari siapa dia yang paling cepat,

Namun tentang rasa cinta dari orang yang tepat,

Disaat yang tepat, dan

Untuk kebahagiaan orang terdekat.
.
.


.
.

Cerita ini adalah cerita umum, bukan bermaksud mengeneralisir. mempercayainya seratus persen adalah salah, tak mempercayainya sama-sekali adalah kebebasan anda. monggo di simak
.
.
Beberapa waktu lalu saya ikut nimbrung di media sosial yang membahas tentang curhatan orang yang kurang lebih seperti ini:

"Yang nikah muda ko akun medsosnya jadi olshop ya". kemudian ada balasan dari cewe,

"Tadinya saya mau open BO mas, cuma ndak dibolehin suami jadi ya ngolshop aja". haha, 

Curhatan dan jawaban menohok itu di screenshoot kemudian diupload di instagram, biasalah model akun-akun yang ingin followersnya naik ya pake trik seperti itu.

Lanjut ke topik, sambil mengingat-ingat ternyata ada benarnya juga curhatan orang itu, saya kira banyak juga orang sekitaran saya yang sehabis nikah mendadak jualan "Olshop", sebenarnya tidak ada masalah si mau apapun usaha yang dilakukan orang setelah menikah selama itu halal wa thoyib, ibaratnya mereka kan memang sudah harus hidup mandiri ya itung-itung membantu suami, cuma dari curhatan itu ko saya jadi ingat stiker himbauan dari pemerintah dirumah orang pas saya sholat jum'at yang isinya kurang lebih seperti ini, bahaya nikah muda: resiko kematian ibu dan anak, rawan stres karena masih labil, keluarga terabaikan, susah ekonomi, resiko perceraian dll

Ternyata banyak juga masalahnya ya kalau nikah muda tanpa perencanaan yang matang, bagi saya sendiri si setuju saja dengan himbauan pemerintah untuk tidak nikah muda, cuman ketika saya berfikir lagi sebenarnya himbauan dirumah warga ini masih kurang, maksudnya begini, bukan mau su'udzon ya, cuma bicara fakta disekitaran, bukankah sebenarnya mereka yang nikah muda ini kebanyakan akibat dari "Kecelakaan", paham ya maksud saya, jadi pemerintah ngajak "jangan nikah muda" ya kesannya telat, mereka yang masih polos dah kelewat mblendung bagaimana?

Harusnya pemerintah melakukan penyuluhan jangan nikah muda lebih awal lagi, contoh stiker seperti ini harusnya nempelnya diperbanyak di sekolahan-sekolahan SMP, SMA, SMK baru pas, dan sangat perlu guru diarahkan untuk menerangkan dan menekankan kepada anak didiknya tentang bahayanya pergaulan bebas, makanya pendidikan sex usia dini itu saya rasa perlu, cuma pendidikan yang seperti ini saja, kemarin masih ada orang yang mempermasalahkan weleh.

Lanjut lagi, mungkin maksudnya pemerintah himbauan di rumah-rumah itu untuk para keluarga agar menasehati anak-anaknya supaya menjaga diri dan tidak melakukan perbuatan aneh-aneh, walaupun demikian nyatanya masih ada juga yang kecolongan, bagaimanapun kehidupan orang tua dan anak tetap ada sekat akibat perkembangan teknologi, tanpa bimbingan yang baik dan kontinyu dari orang tua bisa saja anak terbawa arus negatif,  oke stop dulu saya rasa ini dah keluar topik kita luruskan lagi.

"Himbauan jangan nikah muda", saya garis bawahi untuk mereka yang mau nikah pada usia muda (muda keduanya baik yang laki-laki maupun perempuan), niat nikah karena memang pingin nikah dan bukan karena "kecelakaan" seperti tadi ya.

Mereka yang punya rencana nikah pada usia muda alasannya bermacam-macam, bisa karena merasa sudah waktunya karena mungkin sudah bekerja dan mempunyai uang, atau bisa saja karena mereka sudah berkomitmen (pacaran😂) jadi ya mau apalagi, ada juga yang karena merasa sudah tak bisa mengendalikan nafsu yang besar sehingga dari pada berbuat dosa solusinya ya menikah, hal itu di tambah ada sebagian kecil "Tokoh" yang berdasarkan "Konteks" menekankan pada para kaum muda ("ni yang sudah berpenghasilan supaya cepet-cepet nikah deh, jangan kelamaan, nanti dosa"). Hal itu benar memang tapi kan bukannya masih ada opsi lain, misal mereka yang susah mengendalikan nafsu ya supaya diperbanyak berpuasa, olahraga, ngaji cari ilmu dulu atau apapun, dari pada langsung diarahkan ke solusi pernikahan, hal itu kadang membuat saya merasa prihatin. Karena terkadang mereka yang baru senang mengaji dan merasa dekat dengan kebaikan di beri arahan seperti itu ya langsung mereka lakukan, saya bilang begitu karena banyak yang bercerita demikian, akhirnya menikah tanpa perencanaan matang sehingga berakhir perceraiaan.

Saya memang sependapat dengan pemerintah supaya nikah itu benar-benar di persiapkan, baik fisik maupun mental, yang jadi masalah bagaimana jika kondisinya mengharuskan untuk tetap menikah? oke kalo memang kondisinya harus menikah saya coba memberikan pendapat berdasar pengamatan saya,

Okelah nikah muda silahkan cuma yang ingin saya tekankan untuk para Suami dan Istri berfikirlah matang-matang dan benar-benar persiapkan sebelum memiliki anak, maksudnya begini, terlepas dari semua opini dan pendapat saya diatas, "menikah muda itu tak masalah, cuma mempunyai anak diusia muda itu masalah", saya berpendapat demikian karena jujur melihat pasangan yang "keduanya masih sangat muda" tapi sudah mempunyai anak itu kasihan, seharusnya masa-masa muda seperti mereka, mereka habiskan untuk mengenal dunia, belajar, membantu orang tua, meraih cita-cita mungkin. Cuma harus terhenti karena sudah harus berfikir menghidupi keluarga dan anak, terlebih masa seperti sekarang, cari pekerjaan susah, mau berdagang minim pengalaman, pekerjaan sistem kontrak, (bahkan ada perusahaan yang tak menerima pegawai baru yang sudah beristri dan mempunyai anak, pertimbangannya karena perusahaan harus membayar tunjangan istri dan anak, dll) kalau tak bisa survive tentunya hal ini akan jadi masalah, bukan hanya mereka si pasangan muda namun berimbas pada kedua keluarga nantinya. bahkan efek terburuknya hancurnya rumah tangga dan perceraian. naudzubillah

Saran saya yang terakhir, jika memang "merencanakan nikah diusia muda", silahkan, "cuma tahan dulu untuk mempunyai anak", bersenang-senanglah dulu dengan suami atau istrimu, kalau bisa saling membantu bekerja, menabung, berinfestasi, kalau bisa buat usaha sendiri, baru ketika memang sudah benar-benar siap, barulah rencanakan untuk mempunyai anak. Lah tapi itu ada yang nikah muda punya anak juga sukses, ya memang ada,  yang saya ceritakan kan cerita umum, jadi kita ambil contohnya ya rata-rata bukan hanya satu contoh, begitu. Bahkan kebalikan cerita saya diatas "mereka yang sudah dianggap dewasa pun ada yang sampai bercerai, artinya kan memang menikah itu sesuatu yang perlu perencanaan, bukan begitu."

NB ini hanya "OPINEWS" hasil akhir tetap pada hak anda untuk menentukan.

jika merasa penting untuk di share silahkan, jika kurang setuju silahkan berkomentar, jika ada yang kurang silahkan ditambahi, kolom komentar terbuka lebar😁 terimakasih


ttw/26-05-20

AKU TAK MELIHAT KEBIJAKANMU DALAM KEBIJAKAN

Penasaran menuntun saya membuka kembali file-file lama yang tertumpuk bercampur kertas-kertas sobekan yang saya anggap penting dalam tas tem...